Sunday, 28 October 2012



IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KITAB KUNING SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA
DI MADRASAH DINIAH SIROJUTH THOLIBIIN BACEM SUTOJAYAN BLITAR
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, dimana seorang kyai mengajarkan ilmu agama islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh Ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.[1] Kemudian secara antropologi social Dhofier menyebutkan lima elemen bagi lembaga pendidikan tradisional atau yang disebut pesantren ini yaitu adanya pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab islam klasik, dan kyai.[2] Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional memiliki watak yang utama, yaitu sebagai lembaga pendidikan yang memiliki ciri-ciri khas. Karena pesantren memiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan tradisi keilmuan lembaga-lembaga lainnya, seperti madrasah atau sekolah.[3]Salah satu dari ciri utama pesantren adalah sebagai pembeda dengan lembaga keilmuan yang lain adalah kitab kuning, yaitu kitab-kitab islam klasik yang ditulis dalam bahasa Arab baik yang ditulis tokoh muslim Arab maupun para pemikir Muslim Indonesia.[4]

Di era globalilasi ini pesantren  dianggap sebagai sebagai tempat yang dominan untuk pembentukan karakter yang ideal. Mengingat moral anak bangsa yang menurun, sehingga sering kali kita melihat diberbagai media masa tentang perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh anak bangsa khususnya. Anak  yang  berada  dalam masa  puber  serta  belum memahami  agama Islam  dan  fenomena  tersebut  terjadi  di  sekolahan  lanjutan  pertama  dengan didukungnya  mata pelajaran tentang keagamaannya sangat kurang maksimal. Anak  akan  mudah  terjerumus  pada  perbuatan  dosa  dan  perbuatan  maksiat lainnya.  Keadaan semacam  ini  juga  dapat  menjadi  penyebab  utama kemerosotan  moral,  pergaulan  bebas,  penggunaan  obat-obat  terlarang, pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai bentuk kejahatan yang kebanyakan dilakukan  oleh  generasi  yang  kurang  pemahamannya  tentang  akhlak, kurangnya pendidikan akhlak serta pembinaan akhlak pada anak.
Melihat fenomena diatas, penulis tertarik untuk membuat penelitian dengan judul IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTREN SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA sebagai tugas mata kuliah Metode Penelitian Pendidikan semester V STIT AL-MUSLIHUUN Tlogo Kanigoro Blitar.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang tersebut maka peneliti akan merumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimana implementasi pembelajaran kitab kuning sebagai upaya pembentukan karakter bangsa di Madrasah Diniyah sirojuth Tholibiin Bacem Sutojayan?

C.     TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk mengetahui bentuk pembinaan akhlak di MADIN Sirojuth Tholibiin Bacem sutojayan
2.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif kepada pihak-pihak yang bergerak dalam dunia pendidikan, khususnya yang mengenai akhlak/karakter.

D.    KEGUNAAN PENELITIAN
Dalam pelaksanaan penelitian ini penulis beharap hasilnya dapat bermanfaat bagi:
1.      Pihak Madrasah
Sebagai bahan informasi, pertimbangan, dan acuan kerangka berpikir bagi pengelolaan sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat, bangsa dan negara.
2.      Pihak Guru atau Pengajar
Dapat menambah wawasan dan sebagai bahan evaluasi tambahan untuk kesempurnaan dan perbaikan sistem dan metode pengajaran yang akan datang.
3.      Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan tentang peranan kitab kuning dalam dalam pembentukan karakter santri.

E.     BATASAN ISTILAH
Batasan istilah perlu ditulis dalam penulisan ini supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami karya tulis ini
1.      Implementasi
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Lengkap disebutkan, “Implementasi (n): penerapan, pelaksanaan”.[5] Yang dimaksud dengan implementasi dalam karya tulis ini adalah penerapan atau pelaksanaan pembelajaran kitab kuning di pesantren dalam upaya pembentukan karakter bangsa.
2.      Pembelajaran
Pembelajaran menurut Mulyasa pada hakikatnya yaitu interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.[6]
3.      Kitab kuning
Kitab kuning adalah kitab karya Ulama abad pertengahan yang ditulis dengan bahasa Arab (biasanya tanpa syakal) baik yang ditulis oleh ulama Timur Tengah maupun Ulama Indonesia dan sebagian besar dicetak dengan kertas yang berwarna kuning.
4.      Pesantren
Abdurrahman Wahid, mendefinisikan pesantren secara teknis, pesantren adalah tempat di mana santri tinggal.[7]
5.      Karakter
Karakter adalah sebuah kata yang merujuk pada kualitas orang dengan karakteristik tertentu.[8]
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    KAJIAN TENTANG IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KITAB KUNING
1.      Kitab Kuning
a.       Definisi kitab Kuning
Menurut Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA saat diwawancarai tim www.pondokpesantren.net, Kitab Kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab atau berhuruf Arab karya ulama salaf, ulama zaman dulu, yang dicetak dengan kertas kuning. Sebenarnya yang paling tepat disebut dengan kutub al-turats yang isinya berupa hazanah kreatifitas pengembangan peradaban Islam pada zaman dahulu. Dalam hazanah tersebut terdapat hal-hal yang sangat prinsip yang kita tidak dapat mengabaikannya. Selain itu, hazanah tersebut juga terdapat hal-hal yang boleh kita kritisi, kita boleh tidak memakainya dan ada juga yang sudah tidak relevan lagi. Tetapi kalau yang namanya kitab usul fiqh, mushtalah al-hadits, nahwu-sharaf, ilmu tafsir, ilmu tajwid itu semua adalah prinsip, mau atau tidak mau sekarang kita harus menggunakan kita-kitab tersebut.[9]
b.      Cara Memahmi Kitab Kuning
1.      Diantara cara memahami kitab kuning yaitu:
Pengkaji kitab kuning tidak hanya berhenti pemahaman hukum-hukum hasil karya ulama terdahulu, tetapi melacak metodologi penggalian hukumnya. Hal ini sebagaimana tawaran al Ghazali bahwa ilmu yang paling baik adalah penggabungan antara aqli dan naqli, antara menerima hasil pemikiran ulama’ salaf sekaligus mengetahui dalil dan penalarannya.
2.      Membiasakan untuk bersikap kritis dan teliti terhadap objek kajian. Karena pada dasarnya budaya kritis adalah hal yang lumrah dalam dunia intelektual. Sebagaimana telah kita saksikan potret kehidupan ulama’ salaf yang sarat dengan nuansa konflik dan polemik. Hal itu terjadi, tak lain hanyalah karena ketelitian, kejelian dan kritisisme yang dimiliki oleh para pendahulu kita yang kesemuanya patut untuk kita teladani.
3.      Melakukan analisa yang mendalam, apakah pendapat ulama itu benar-benar murni refleksi atas teks (nash) atau ada faktor lain yang mempengaruhi. Sekedar contoh, kenapa sampai ada qoul qodim dan qoul jadid, kenapa Imam Nawawi berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i dalam transaksi jual beli tanpa sighat (bai’al mu’athoh), kenapa Imam Qoffal berani berbeda pendapat dalam memahami sabilillah yang berarti setiap jalan kebaikan (sabil al khair) dapat menerima zakat sedangkan mayoritas ulama tidak memperbolehkan.
4.      Menelusuri sebab terjadinya perbedaan pendapat, sejarah kodifikasi kitab kuning, latar belakang pendidikan pengarang, keadaan sosial dan budaya yang mempengaruhinya. Memahami faktor dan tujuan pengarang mengemukakan pendapatnya.
5.      Pengkaji harus menjaga jarak antara dirinya (selaku subyek) dan materi kajian (selaku obyek). Dengan prinsip ini, peneliti tidak boleh membuat penilaian apapun terhadap materi dan melepaskan dari fanatisme yang berlebihan. Dalam tahap ini peneliti harus berusaha ”menelanjangi” aspek kultural, sosial dan historis dimana suatu hukum dicetuskan. Benar-benar memahami latar belakang suatu hukum yang telah dirumuskan ulama’ salaf. Hal ini dimaksudkan agar terjadi penilaian dan pemahaman yang obyektif.[10]
c.       Metode Pembelajaran Kitab Kuning
Ada beberapa metode yang sering digunakan pesantren tradisional dalam pembelajaran kitab  kuning yaitu: 
1.      Metode Weton atau Bandongan (halaqah)
Metode weton adalah pengajian yang inisiatifnya berasal dari kyai sendiri baik dalam menentukan tempat, tempat waktu, maupun lebih-lebih kitabnya.
2.      Metode Sorogan
Metode sorongan adalah pengajian yang merupakan permintaan seseorang atau beberapa santri kepada kyainya untuk diajarkan kitab tertentu.
3.      Metode Hafalan
Metode hafalan ialah kegiatan belajar santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu dibawah bimbingan dan pengawasan seorang ustadz atau kyai.
4.      Metode Diskusi
Metode ini dimaksudkan sebagai penyajian bahan pelajaran denagn cara santri membahasnya bersama -sama melalui tukar pendapat tentang suatu topik atau masalah tertentu yang ada dalam Kitab Kuning, dalam hal ini kiyai atau ustadz sebagai bertindak sebagai moderator.[11]

B.     KAJIAN TENTANG PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA
1.      Pengertian Karakter
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter, adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak.
Karakter mulia berari individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menempati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis0, sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertidak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakter adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (Pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
2.      Nilai-Nilai Karakter
Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan serta kebangsaan. Berikut adalah daftar nilai-nilai utama yang dimaksud dan deskripsi ringkasnya:
a.        Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan
Yaitu religius; pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.
b.      Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri (personal)
1)      Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan tindakan, dan perkerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.
2)      Bertanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untu melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.
3)      Bergaya hidup sehat
Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
4)      Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5)      Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
6)      Percaya diri
Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhdapat pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.
7)      Berjiwa wirausaha
Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.
8)      Berpikir logis, kritis, dan inovatif
Berrpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki.
9)      Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
10)  Ingin tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
11)  Cinta ilmu
12)  Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.
c.       Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama
1)      Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang mengjadi miliki/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
2)      Patuh pada aturan-aturan social
Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepertingan umum.
3)      Menghargai karya dan prestasi orang lain
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
4)      Santun
Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.
5)      Demokratis
Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
d.      Nilai karakter dalam hubungannya dengna lingkungan
1)      Penduli sosial dan lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusahakan alam yang sudah terjadi dan selalau memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
2)      Nilai kebangsaan
Cara berfikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
3)      Nasionalis
Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
4)      Menghargai keberagaman
Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku dan agama.

3.      Hakikat Pendidikan Karakter
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, Pasal 3 dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
a.       Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME
b.      Berakhlak mulia
c.       Sehat
d.      Berilmu
e.       Cakap
f.       Kreatif
g.      Mandiri dan
h.      Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penaman nilai karakter kepada peserta didikn yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran pada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter di LKP, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajarandan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan LKP, pelaksaan aktivitas pembelajran, pemberdayaan sarna prasaran, pembiayaan dan ethos kerja seluruh warga LKP.
Menurut David Elkind & Freddy Sweet, Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut “character education is the deliberate efort to help people understand, cara about, and act upon core ethical values. When we think atau the kind of character we want is right, care deeply about what is right, even in the face of pressure from without and temptation from within”
Dengan demikian, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan pendidikan, yang mampu mempengaruhi karaker peserta didik. Pendidik membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku pendidik, cara pendidik berbiacara atau menyampaikan materi, bagaimana pendidik bertoleransi, dan berbangsa hal terkait lainnya.
4.      Pentingnya Pendidikan Karakter
Karakter baika merupakan persyaratan agar kompetensi yang dimiki seseorang dipakai secara bijaksana. Kompetensi hanya akan menjadi kekayaan dan membawa maslahat bagi orang banyak apabila kompetensi tersebut disertai dengan karakter baik. Sebaliknya orang yang berkompetansi tinggi namum karakternya tidak baik cenderung akan memakai kompetensinya untuk hal-hal yang merugikan masyarakat. Dengan demikian, apabila dalam satu masyarakat kerusakana karakter meluas, maka bangsa tersebut akan digerogoti sendiri oleh warganya, atau dengan kata lain masyarakatnya akan melalukan tindakan merusaka diri sendiri.
Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadidemoralisasi pada masyarakatnya. Banyak pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral (akhlak) adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membantu sebuah masyarakat yang tertib aman dan sejahtera.
Hubungan antara kualitas karakater dan kemajuan bangsa amat erat. Bangsa yang maju ditandai dengna kualitas karakter masyarakatnya yang baik. Thomas Lickona, profesor pendidikan dari Cortland University, mengungkapkan bahwa ada sepuluh tandan-tanda zamanyang harus diwaspadai karena jiak tanda-tanda itu sudah ada berarti bahwa sebuat bangsasedang menuju jurang kehancuran. Dengan kata lain, jika sepuluh tanda itu ada di Indonesia, bersiap-bersiap bahwa Indonesia aka menuju jurang kehancaruan. Ke sepuluh tanda tersebut adalah:
1.      Mengingkatnya kekerasan di kalangan remaja
2.      Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk
3.      Pengaruh peer group yang kuta dalam tindak kekerasan
4.      Meningkatkanya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba alkohol, dan seks bebas.
5.      Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk.
6.      Menurunnya etos kerja
7.      Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan pendidik
8.      Rendahnya rasa tangguang jwaba individu dan warga Negara
9.      Membudayanya rasa tanggung jawab individudan warga Negara
10.  Adanya rasa saling curigai dan kebencian di antara sesama.[12]
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    SUMBER DATA
1.      Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh lansung dari sumbernya yaitu Kepala Madrasah, Pengajar, dan santri Madrasah Diniyah Sirojuth Tholibiin Bacem Sutojayan Blitar.
2.      Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data yang sudah ada yaitu dokumen-dokumen yang diperoleh dan mempunyai hubungan dengan masalah yang diteliti, seperti struktur organisasi madrasah, keadaan guru madrasah, data santri, sarana dan prasarana dan lain sebagainya.
Sedangkan yang menjadi informan dari penelitian ini adalah Kepala Madrasah, pengajar/ustadz, dan santri/siswa.

B.     METODE PENGUMPULAN DATA
1.      Angket
Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden.[13]
2.      Observasi
Dalam observasi ini, peneliti sebagai juga sebagai obyek penelitian tetapi tidak secara keseluruhan. Teknik observasi yang dipilih peneliti ini adalah observasi moderat, yaitu observasi yang mana terdapat keseimbangan antara peneliti mendaji orang dalam dan orang luar. Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.[14]
3.      Wawancara
Esterberg (2002) mendefinisika wawancara sebagai pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu.[15]

C.     METODE ANALISIS DATA
Menganalisis data penelitian merupakan suatu langkah yang sangat kritis, apakah menggunakan data statistic atau non statistic.
Dalam hal menganalisis data ini, peneliti menggunakan rumus:
           
Keterangan:
a.       P = Prosentase
b.      F = Frekuensi jawaban responden
c.       N = Jumlah responden



[1] Sudjoko Prasodjo, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2001), hlm. 104
[2] Zamakhsyari, Tradisi Pesantren,hlm. 44-46
[3] Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 157
[4] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2011), hlm. 331
[5] Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap (Surabaya: APOLLO, 1997), hlm 279
[6] Mulyasa dalam Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis PAIKEM, Ismail SM (Semarang: RaSAIL ,2011), hlm. 10
[7] Abdurrahman Wahid, Op.Cit. hlm. 17
[8] Dharma Kuruma dkk, Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 24
[9] Hasil wawancara www.pondokpesantren.net kepada Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA
[10] http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?Itemid=65&catid=31:seputar-pesantren&id=1218:metode-memahami-kitab-kuning&option=com_content&view=article
[11] M. Ja’far Shodiq, dalam skripsinya yang berjudul “PERANAN PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP  AKHLAK SANTRI DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA MOJOSARI KEPANJEN MALANG”, tahun 2007
[12] http://juansyah.wordpress.com/2012/07/29/pengertian-karakter/
[13] http://giskacumalimahuruf.wordpress.com/2009/06/14/teknik-pengumpulan-data-menggunakan-kuesioner/
[14] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: ALFABETA, 2008), hlm 312
[15] Sugiyono, Op.Cit. hlm. 317
Reactions:

0 comments:

Post a Comment