kolom iklan

Tuesday, 13 March 2012

Pengantar profesi keguruan


Di dalam manajemen pendidikan kita harus melihat seberapa jauh kekuasaan pembuatan kebijaksanaan pendidikan itu tersentralisasi atau terdesentralisasi. Demikian juga kita harus mengamati seberapa jauh masyarakat terlibat dan ikut berperan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengontrol pelaksanaan pendidikan. Dengan demikian, pengontrolan ini pendidikan tidak akan dikebiri prosesnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pelaksanaan pendidikan selama ini banyak diwarnai oleh pendekatan sarwa negara (state driven). Di mana yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customers first). Pendidikan harus mengenali siapa pelanggannya, dan dari pengenalan ini pendidikan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, baru ditentukan sistem pendidikan, macam kurikulumnya, dan persyaratan pengajarnya.
Pendekatan sarwa negara mengakibatkan terjadinya sentralisasi sistem pendidikan. Untuk masa depan, visi pendidikan tidak lagi berorientasi pada sentralisasi kekuasaan, melainkan desentralisasi dan memberikan otonomi kepada satuan di bawah atau kepada daerah.
Visi pendidikan masa depan menuntut kita agar mampu hidup dalam suasana schooling and working in democratic state dan meletakkan information technology.
Mengingat masih banyaknya lulusan lembaga pendidikan formal, baik dari tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi, terkesan belum mampu mengembangkan kreativitas dalam kehidupan mereka. Lulusan sekolah menengah sukar untuk bekerja di sektor formal, karena belum memiliki keahlian khusus. Bagi sarjana, mereka yang dapat berperan secara aktif dalam bekerja di sektor formal terbilang hanya sedikit. Keahlian dan profesionalisasi yang melekat pada lembaga pendidikan tinggi terkesan hanyalah simbol belaka, lulusannya tidak profesional. Penguasaan bahasa Inggris, keterampilan komputer, dan pengalaman kerja merupakan persyaratan utama yang diminta perusahaan-perusahaan. Sementara ijazah yang diperoleh selama 20 atau 25 tahun dari lembaga pendidikan formal terabaikan.
Memperhatikan berbagai kondisi pendidikan dewasa ini, maka hal yang perlu dikedepankan, yaitu (1) bagaimana memberdayakan lembaga pendidikan agar menjadi lembaga human investment? (2) hal-hal apakah yang perlu dilakukan agar otonomisasi penyelenggaraan pendidikan dapat dilakukan dengan baik?
Sepuluh Perubahan Pendidikan untuk Peningkatan Sumber Daya Manusia
Seberapa jauh pendidikan mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) kita dan jati diri bangsa dalam mengembangkan demokrasi dan memupuk persatuan bangsa? Hal ini dapat terlihat dengan menganalisis beberapa paradigme pendidikan, di antaranya: (1) pendidikan sebagai proses pembebasan.                 (2) pendidikan sebagai proses pencerdasan. (3) pendidikan menjunjung tinggi hak-hak anak. (4) pendidikan menghasilkan tindak perdamaian. (5) pendidikan sebagai proses pemberdayaan potensi manusia (6) pendidikan anak berwawasan integratif. (7) pendidikan membangun watak persatuan. (8) pendidikan menghasilkan manusia demokratis. (9) pendidikan menghasilkan manusia yang peduli terhadap lingkungan. (10) Sekolah bukan satu-satunya instrumen pendidikan.
Profesionalisme Guru
Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.
Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan.
Untuk seorang guru perlu mengetahui dan dapat menerapkan beberapa prinsip mengajar agar ia dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu sebagai berikut:
1.      Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.
2.      Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan.
3.      Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik.
4.      Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajaran yang diterimanya.
5.      Sesuai dengan prinsip repetisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan peserta didik menjadi jelas.
6.      Guru wajib memperhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaan dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
7.      Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya.
8.      Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
9.      Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut.
Guru dapat melaksanakan evaluasi yang efektif serta menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta dapat melakukan perbaikan dan pengembangan.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian pesat, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi. Dengan demikian, keahlian guru harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan prinsip mengajar saja.
Seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dapat ditunjukkan oleh peserta didiknya. Untuk itu, apabila seseorang ingin menjadi guru yang profesional maka sudah seharusnya ia dapat selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademis dan praktis melalui jalur pendidikan berjenjang ataupun upgrading dan/atau pelatihan yang bersifat in service training dengan rekan-rekan sejawatnya.
Perubahan dalam cara mengajar guru dapat dilatihkan melalui peningkatan kemampuan mengajar sehingga kebiasaan lama yang kurang efektif dapat segera terdeteksi dan perlahan-lahan dihilangkan. Untuk itu, maka perlu adanya perubahan kebiasaan dalam cara mengajar guru yang diharapkan akan berpengaruh pada cara belajar siswa, di antaranya sebagai berikut:
1.      Memperkecil kebiasaan cara mengajar guru baru (calon guru) yang cepat merasa puas dalam mengajar apabila banyak menyajikan informasi (ceramah) dan terlalu mendominasi kegiatan belajar peserta didik.
2.      Guru hendaknya berperan sebagai pengarah, pembimbing, pemberi kemudahan dengan menyediakan berbagai fasilitas belajar, pemberi bantuan bagi peserta yang mendapat kesulitan belajar, dan pencipta kondisi yang merangsang dan menantang peserta untuk berpikir dan bekerja (melakukan).
3.      Mengubah dari sekadar metode ceramah dengan berbagai variasi metode yang lebih relevan dengan tujuan pembelajaran, memperkecil kebiasaan cara belajar peserta yang baru merasa belajar dan puas kalau banyak mendengarkan dan menerima informasi (diceramahi) guru, atau baru belajar kalau ada guru.
4.      Guru hendaknya mampu menyiapkan berbagai jenis sumber belajar sehingga peserta didik dapat belajar secara mandiri dan berkelompok, percaya diri, terbuka untuk saling memberi dan menerima pendapat orang lain, serta membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi.
Kompetensi profesional seorang guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terdiri dari 3 (tiga), yaitu kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Agar lebih jelas tentang kompetensi profesional, dijelaskan bahwa peran guru sebagai pengelola proses pembelajaran, harus memiliki kemampuan:
1)        Merencanakan sistem pembelajaran
  • Merumuskan tujuan
  • Memilih prioritas materi yang akan diajarkan
  • Memilih dan menggunakan metode
  • Memilih dan menggunakan sumber belajar yang ada
  • Memilih dan menggunakan media pembelajaran.
2)        Melaksanakan sistem pembelajaran
  • Memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat
  • Menyajikan urutan pembelajaran secara tepat
3)        Mengevaluasi sistem pembelajaran
  • Memilih dan menyusun jenis evaluasi
  • Melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses
  • Mengadministrasikan hasil evaluasi.
4)        Mengembangkan sistem pembelajaran
  • Mengoptimalkan potensi peserta didik
  • Meningkatkan wawasan kemampuan diri sendiri
  • Mengembangkan program pembelajaran lebih lanjut
Sedangkan kompetensi guru yang telah dibakukan oleh Dirjen Dikdasmen Depdiknas (1999) sebagai berikut:
1)        Mengembangkan kepribadian
2)        Menguasai landasan kependidikan
3)        Menguasai bahan pelajaran
4)        Menyusun program pengajaran
5)        Melaksanakan program pengajaran
6)        Menilai hasil dalam PBM yang telah dilaksanakan
7)        Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
8)        Menyelenggarakan program bimbingan
9)        Berinteraksi dengan sejawat dan masyarakat
10)    Menyelenggarakan administrasi sekolah.
Merekonstruksi Masyarakat dan Kebudayaan Melalui Pengubahan Sistem Pengelolaan Pendidikan di Sekolah
Perananan sekolah dalam merekonstruksi masyarakat berarti sekolah merekonstruksi berbagai tata nilai yang telah ada dalam masyarakat, yang oleh Malindoski disebutkan sebagai upaya mengembangkan kebudayaan. Ada tujuh sistem nilai atau kebudayaan yang secara universal dikembangkan, yaitu            (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) sistem mata pencaharian hidup dan ekonomi, (4) organisasional, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, dan (7) kesenian.
Jabatan Profesional dan Tantangan Guru dalam Pembelajaran
Jabatan guru merupakan jabatan profesional yang menghendaki guru harus bekerja secara profesional. Bekerja sebagai seorang yang profesional berarti bekerja dengan keahlian, dan keahlian hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus.
Kondisi dan asas untuk bealajar yang berhasil meliputi: persiapan sebelum mengajar, sasaran belajar, susunan bahan ajar, perbedaan individu, motivasi, sumber pengajaran, keikutsertaan, balikan, penguatan, latihan dan pengulangan, urutan kegiatan belajar, penerapan, sikap mengajar, penyajian di depan kelas.
Kompetensi Profesionalisme Guru
Kompetensi guru adalah kecakapan atau kemampuan yang dimiliki guru, yang diindikasikan dalam tiga kompetensi, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan tugas profesionalnya sebagai guru (profesional), kompetensi yang berhubungan dengan keadaan pribadinya (personal), dan kompetensi yang berhubungan dengan masyarakat atau lingkungannya (sosial).
Kompetensi guru profesional menurut pakar pendidikan seperti Soediarto menuntut dirinya sebagai seorang guru agar mampu menganalisis, mendiagnosis, dan memprognosis situasi pendidikan. Guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai antara lain: (a) disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran, (b) bahan ajar yang diajarkan, (c) pengetahuan tentang karakteristik siswa, (d) pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan,        (e) pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar, (f) penguasaan terhadap prinsip teknologi pembelajaran, (g) pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, memimpin, guna kelancaran proses pendidikan.
Reformasi Pendidikan
Sistem pendidikan yang selama ini dikelola dalam suatu iklim birokratik dan sentralistik dianggap sebagai salah satu sebab yang telah membuahkan keterpurukan dalam mutu dan keunggulan pendidikan di tanah air. Mengapa demikian? Karena sistem birokrasi selalu menempatkan kekuasaan sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses pengambilan keputusan.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) muncul sebagai paradigma baru pengelolaan pendidikan. MBS bermaksud “mengembalikan” sekolah kepada pemiliknya, yaitu masyarakat, yang diharapkan akan merasa bertanggung jawab kembali sepenuhnya terhadap pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah.
Paradigma MBS beranggapan bahwa satu-satunya jalan masuk yang terdekat menuju peningkatan mutu dan relevansi adalah demokratisasi, partisipasi, dan akuntabilitas pendidikan. Kepala sekolah, guru, dan masyarakat adalah pelaku utama dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala keputusan mengenai penanganan persoalan pendidikan pada tingkatan mikro harus dihasilkan dari interaksi ketiga pihak tersebut.
Untuk sampai pada kemampuan untuk mengurus dan mengatur penyelenggaraan pendidikan di setiap satuan pendidikan, diperlukan program yang sistematis dengan melakukan capacity building. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan setiap satuan pendidikan secara berkelanjutan, baik untuk melaksanakan peran-peran manajemen pendidikan maupun peran-peran pembelajaran. Namun, kegiatan capacity building tersebut perlu dilakukan secara sistematis melalui penahapan sehingga menjadi proses yang dilakukan secara berkesinambungan arahnya menjadi jelas (straight foreward) dan terukur (measurable). Terdapat empat tahapan pokok yang perlu dilalui dalam melaksanakan capacity building bagi setiap satuan pendidikan, yaitu: tahap praformal, tahap formalitas, tahap transisional, dan tahap otonomi.

Peran Teknologi dalam Perkembangan Pendidikan di Indonesia
Salah satu komponen pendidikan yang perlu dikembangkan adalah kurikulum yang berbasis pendidikan teknologi di jenjang pendidikan dasar. Kemampuan-kemampuan seperti memecahkan masalah, berpikir secara alternatif, dan menilai sendiri hasil karyanya dapat dibelajarkan melalui pendidikan teknonologi. Untuk itu, pembelajaran pendidikan teknologi perlu didasarkan pada empat pilar proses pembelajaran, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Peran Guru dalam Pengembangan Media Pembelajaran di Era Teknologi Komunikasi dan Informasi
Klasifikasi media pembelajaran sebagai berikut:
1.      Media yang tidak diproyeksikan (non projected media), jenis media: Realita, model, bahan grafis (graphical material), display.
2.      Media yang diproyeksikan (projected media), jenis media: OHT, slide, opaque.
3. Media audio (Audio), jenis media: Audio kaset, audio vision, active audio vision.
4.      Media video (video), jenis media: video.
5. Media berbasis komputer (computer based media), jenis media: Computer Assisted Instruction (CIA), Computer Managed Instruction (CMI).
6.      Multimedia Kit, jenis media: perangkat praktikum.
Benang Kusut Pendidikan di Era Otonomi Pendidikan
Pada saat ini pendidikan nasional masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang menonjol: (1) masih rendahnya pemerataan untuk memperoleh pendidikan, (2) masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan, dan (3) masih lemahnya manajemen pendidikan, di samping belum terwujudnya kemandirian dan  keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi di antarwilayah geografis, yaitu antara perkotaan dan pedesaan, serta antara Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI), dan antartingkat pendapatan penduduk ataupun atargender.
Kondisi yang sangat memprihatinkan tentang kualitas pendidikan di Indonesia tercermin pada hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) yang dilaksanakan oleh organisasi International Education Achievement (IEA) yang menunjukkan bahwa siswa SD di Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), studi untuk kemampuan matematika siswa SMP di Indonesia hanya berada pada urutan ke-39 dari 42 negara, dan untuk kemampuan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) hanya berada pada urutan ke-40 dari 42 negara peserta. ***
Sekian rangkuman buku Profesi Kependidikan karya Prof. Dr. H. Hamzah B. Uno, M.Pd. Semoga bermanfaat!

contoh makalah media pembelajaran

MAKALAH KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN


KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Media Pembelajaran
Dosen Pengampu : Abdul Aziz, M.Ag



 

Disusun oleh :
Hanif Amru Haq                     110008
Khozainun Na’imah                110081
Tumini                                     110100
Uchwatul Chasanah                110101
 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PATI
(STAIP)
JURUSAN TARBIYAH
2011




KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN

A.    PENDAHULUAN
Media pembelajaran merupakan komponen intruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam dunia pendidikan (misalnya teori/konsep baru dan teknologi), media pendidikan (pembelajaran) terus mengalami perkembangan dan terampil dalam berbagai jenis dan format, dengan masing-masing ciri dan karakteristiknya. Dari sinilah kemudian timbul usaha-usaha untuk melakukan klasifikasi atau pengelompokan media, yang mengarah pada pembuatan taksonomi media pendidikan/pembelajaran.
Berdasarkan pemahaman atas klasifikasi media pembelajaran akan mempermudah para guru atau praktisi lainnya dalam melakukan pemilihan media yang tepat pada waktu merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan, materi, serta kemampuan dan karakteristik belajar, akan sangat menunjang efisiensi da efektifitas proses dan hasil pembelajaran.
B.      RUMUSAN MASALAH
Dari pendahuluan diatas, kami membuat permasalahan :
1.      Apa saja klasifikasi media pembelajaran menurut para ahli?
2.      Apa saja karakteristik media pembelajaran berdasarkan klasifikasinya, kelebihan serta kekurangannya?
C.    PEMBAHASAN
1.      Media pembelajaran diklasifikasi menurut para ahli
Tujuan pemakaian dan karakteristik jenis media. Terdapat lima model klasifikasi, yaitu :
a.       Menurut Wilbur Schramm, media digolongkan menjadi media rumit, mahal, dan media sederhana. Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan, yaitu: (1) liputan luas dan serentak, seperti TV, radio, dan facsimile; (2) liputan terbatas pada ruangan, seperti film, video, slide, poster audio tape; (3) media untuk belajar individual, seperti buku, modul, program belajar dengan computer dan telepon.
b.      Menurut Gagne, media diklasifikasi menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk didemonsrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin bajat. Ketujuh media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut herarki belajar yang dikembangkan, yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh perilaku belajar, memberi kondisi eksternal, menuntun cara berfikir, memasukkan alih ilmu, menilai prestasi, dan memberi umpan balik.
c.       Menurut Allen, terdapat Sembilan kelompok media, yaitu visual diam, film, televise, obyek 3 D, rekaman, pelajaran berprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Disamping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info factual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, ketrampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar.
d.      Menurut Gerlach dan Ely media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas kedelapan kelompok yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi.
e.       Menurut Ibrahim media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta komplek, tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi 2 D, media tanpa proyeksi 3 D, media audio, media proyeksi televise, video dan komputer.[1]
2.      Karakteristik media pembelajaran berdasarkan klasifikasinya, kelebihan serta kekurangannya
-          Kelompok Media
1.      Kelompok Kesatu
a.    Media grafis adalah media visual yang menyajikan fakta, ide atau gagasan, penyajian kata-kata, kalimat, angka-angka, dan symbol atau gambar. Yang termasuk media grafis antara lain grafik, diagram, bagan, sketsa, poster, papan flannel, bulletin board.
-          Kelemahan media grafis
1.      Dapat mempermudah dan mempercepat pemahaman siswa terhadap pesan yang disajikan.
2.      Dapat dilengkapi dengan warna-warna sehingga lebih menarik perhatian siswa
3.      Pembuatannya mudah dan harganya murah
-          Kelemahan media grafis
1.      Membutuhkan ketrampilan khusus dalam pembuatannya, terutama untuk grafis yang lebih kompleks
2.      Penyajian pesan hanya berupa unsur visual
b.   Media Bahan Cetak adalah media visual yang pembuatannya melalui proses pencetakan atau printing, media ini menyajikan pesan melalui huruf dan gambar-gambar yang diilustrasikan untuk lebih memperjelas pesan atau informasi yang disajikan. Jenis-jenis media ini antara lain buku teks, modul, bahan pengajaran terprogram.
-          Kelebihan media bahan cetak
1.      Dapat menyajikan informasi atau pesan dalam jumlah banyak
2.      Dapat dipelajari oleh siswa sesuai dengan kebutuhan, minat dan kecapatan masing-masing
3.      Dapat dipelajari kapan saja dan dimana saja
4.      Perbaikan atau revisi mudah dilakukan
-          Kelemahan media bahan cetak
1.      Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama
2.      Bahan cetak yang tebal, bisa membosankan dan mematikan minat baca siswa
3.      Apabila bahannya jelek, akan mudah rusak dan sobek
c.    Media gambar diam, adalah media visual yang berupa gambar yang dihasilkan melalui proses fotografi. Jenis media ini adalah foto.
-          Kelebihan media gambar diam
1.      Dibanding dengan grafis, media foto lebih nyata
2.      Dapat menunjukkan perbandingan yang tepat dari obyek yang sebenarnya
3.      Pembuatannya mudah dan harganya murah
-          Kelemahan media gambar diam
1.      Biasanya ukurannya terbatas, sehingga kurang efektif untuk pembelajaran kelompok besar
2.      Perbandingan yang kurang tepat dari suatu obyek, akan menimbulkan kesalahan persepsi
2.      Kelompok Kedua
a.       Media media proyeksi diam, adalah media visual yang diproyeksikan atau media yang memproyeksikan pesan, dimana hasil proyeksikan tidak bergerak atau memiliki sedikit unsur gerakan. Jenis media ini diantaranya OHP/OHT, Opaque Projector, Slide, dan film strip.
-          Kelebihan media proyeksi diam
1.      Dapat digunakan untuk menyaksikan pesan disemua ukuran ruangan kelas
2.      Merangsang minat dan perhatian siswa dengan warna dan gambar yang kongkret
3.      Membantu menimbulkan pengertian dan ingatan yang kuat pada pesan yang disampaikan dan dapat dipadukan dengan unsur suara
-          Kelemahan media proyeksi diam
1.      Memerlukan perencanaan yang matang dalam pembuatan dan penyajiaannya
2.      Memerlukan penggelapan ruangan untuk memproyeksikannya
3.      Kelompok Ketiga
a.       Media Audio adalah media yang menyampaikan pesannya hanya dapat diterima oleh media pendengar. Pesan atau informasi yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambing-lambang audiktif yang berupa kata-kata, music, dan sound effect. Jenis media ini antara lain diantaranya media audio, dan media alat perekam pita magnetif.
-          Kelebihan media audio
1.      Memiliki variasi program yang cukup banyak
2.      Baik untuk mengembangkan imajinasi siswa
3.      Sangat efektif untuk pembejaran bahasa
4.      Penggandaan programnya sangat mudah
-          Kelemahan media audio
1.      Sifat komunikasinya hanya satu arah
2.      Daya jangkauannya terbatas
4.      Kelompok Keempat
a.       Media Audio Visual Diam, adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indra penglihatan dan pendengaran, akan tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak. Jenis media ini antara lain media sound slide, film strip bersuara, dan halaman bersuara. Kelebihan dan kelemahan media ini tidak jauh berbeda dengan media proyeksi diam. Perbedaannya adalah adanya aspek suara, pada media audio visual diam.
5.      Kelompok Kelima
a.       Film (Motion Pictures), disebut juga gambar hidup yaitu serangkaian gambar yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Film merupakan media yang menyajikan pesan audio visual bergerak karena film memberikan kesan yang impresif bagi pemirsanya.
-          Kelebihan media film
1.      Memberikan pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa
2.      Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses
3.      Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
4.      Memberikan kesan yang mendalam yang dapat mempengaruhi sifat siswa
-          Kelemahan media film
1.      Harga produksinya cukup mahal
2.      Pembuatannya mmbutuhkan banyak waktu dan tenaga
3.      Memerlukan operator khusus
6.      Kelompok Keenam
a.       Televisi adalah media yang dapat menampilkan pesan secara audio visual dan gerak.
-          Kelebihan media televisi
1.      Informasi yang disampaikan lebih aktual
2.      Jangkauan penyebarannya sangat luas
3.      Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses
4.      Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
-          Kelemahan media televisi
1.      Programnya tidak dapat diulang sesuai kebutuhan
2.      Sifat komunikasinya hanya satu arah
7.      Kelompok Ketujuh
a.       Multi Media merupakan suatu sistem penyampaian dengan menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu unit atau paket.
-          Kelebihan multi media
1.      Siswa memiliki pengalaman yang beragam dari segala media
2.      Dapat menghilangkan kebosanan karena media yang digunakan sangat berfariasi
-          Kelemahan multi media
1.      Biaya cukup mahal
2.      Memerlukan perencanaan yang matang dan tenaga yang professional.[2]
D.    KESIMPULAN
1.    a. Menurut Wilbur Schramm, media digolongkan menjadi media rumit,
    mahal, dan media sederhana.
b.    Menurut Gagne, media diklasifikasi menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk didemonsrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin bajat.
c.    Menurut Allen, terdapat Sembilan kelompok media, yaitu visual diam, film, televise, obyek 3 D, rekaman, pelajaran berprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan.
d.   Menurut Gerlach dan Ely media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya.
e.    Menurut Ibrahim media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta komplek, tidaknya alat dan perlengkapannya.
2.    a. Kelompok Kesatu; media grafis, bahan cetak dan gambar diam,
b.    Kelompok kedua; media proyeksi diam
c.    Kelompok ketiga; media audio
d.   Kelompok keempat; media audio visual
e.    Kelompok kelima; film
f.     Kelompok keenam; televisi
g.    Kelompok ketujuh; multi media

DAFTAR KEPUSTAKAAN
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2125035-klasifikasi-media-pembelajaran.html diakses Kamis, 14 April 2011 jam 09.57 WIB
Susilana, Rudi., & Riyana, Cepi. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prim